September 17, 2026 5:17 pm
7

PEMATANGSIANTAR– Ny. Rospita Benny Gusman Sinaga, berkomitmen penuh untuk mengejar ketertinggalan Simalungun dalam hal pemajuan kebudayaan. Hal ini dibuktikannya dengan mendampingi secara bertahap komunitas berbasis budaya lokal, salah satunya Sanggar Budaya Rayantara, dalam sebuah kunjungan kerja langsung pada Rabu, 16 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Ny. Rospita Benny Gusman Sinaga didampingi oleh Horas Bonauli Manullang, MM (Tenaga Ahli Anggota DPR RI). Rombongan tim pendamping meninjau dua sentra pemajuan kebudayaan yang dikelola oleh Sanggar Budaya Rayantara di Pematangsiantar, yaitu Rumah Tenun Hiou Simalungun (RTHS) di Jalan TB Simatupang No. 80 dan Rumah Maestro di Jalan Siantar Timur No. 97 Pematangsiantar

Krisis Regenerasi Partonun Gedogan

Saat berdialog di sentra pertama, Rumah Tenun Hiou Simalungun (RTHS), terungkap bahwa potensi tenun tradisi menghadapi tantangan berupa kelengkapan fasilitas tenun duduk dan krisis regenerasi penerus.

Maestro Tenun Simalungun, Nesly Simarmata (58), secara jujur mengungkapkan kepada Ibu Rospita Purba bahwa saat ini dirinya belum memiliki generasi penerus yang bisa melanjutkan motif asli bulang sapari (sulappei).

“Kurang peminat yang mau belajar. Di kampung saya, Nagori Tongah dekat Tiga Runggu, generasi muda lebih memilih bekerja di ladang atau memetik jeruk (marombou) karena penghasilan hariannya lebih pasti dan lebih mahal daripada martonun,” aku Nesly.

Dari sisi kebutuhan pasar, ia mengakui bahwa banyak pesanan hiou yang meminta harga tenun duduk lebih murah setara dengan katuktak, sehingga ia mulai meninggalkan motif awal/asli bulang sapari beralih kepada pola motif sederhana agar menyesuaikan pasar.

Merespons kendala tersebut, pimpinan sanggar, Sultan Saragih, menjelaskan bahwa dalam waktu dekat Sanggar Budaya Rayantara bersama Kagama Siantar Simalungun dan BBPVP Medan akan mengadakan workshop tenun guna menjaring dan mendapatkan generasi partonun (penenun) baru, juga digital marketing agar partonun tradisi mendapatkan segmen pasar yang tepat.

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Rospita Purba mencoba langsung cara bertenun menggunakan alat tradisional duduk (gedogan).

“Ternyata memang tidak mudah, perlu belajar khusus. Namun bertenun ini memiliki keasyikan tersendiri, membutuhkan ketenangan dan kesarabaran, ada makna nilai filosofis dari setiap motif,”

Pengabdian Seumur Hidup dan Alat Musik yang Lapuk

Perjalanan berlanjut ke sentra kedua, yakni Rumah Maestro Jl. Siantar Timur No 97 Pematangsiantar. Di lokasi ini, rombongan disambut hangat dengan penampilan Tor Tor Martonun yang diiringi oleh musik gual gonrang pimpinan Fius Garingging.

Suasana haru dan kagum menyeruak saat maestro tari senior Simalungun, Raminah Garingging, yang kini telah berusia 92 tahun, turun langsung memperlihatkan keluwesan gerak tari yang diilhami dari musik Gual Batara Guru dan Balang Sahua (Belalang Sembah).

“Saya sangat kagum. Masih ada lansia yang tidak pernah mengenal kata pensiun dalam berkarya, dan memilih melakukan pengabdian seumur hidup bagi budaya,” puji Ibu Rospita Purba dengan mata berbinar.

Namun, di balik keindahan seni tersebut, Tenaga Ahli Anggota DPR RI, Bona Manullang, menemukan fakta lapangan bahwa mayoritas peralatan musik tradisional di Sanggar Rayantara sudah lapuk dimakan usia dan tidak layak pakai.

Rencana Aksi dan Bantuan Pusat

Guna menyelesaikan hambatan fasilitas di kedua sentra ini, langkah konkret langsung dirumuskan di tempat :
• Pihak Sanggar Budaya Rayantara diminta segera melakukan inventarisasi menyeluruh terkait kebutuhan alat musik tradisional yang baru agar anak-anak sanggar dapat belajar lebih baik dan nyaman.
• Bona Manullang menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi akses langsung ke pusat melalui Kementerian Kebudayaan agar RTHS juga mendapatkan tambahan peralatan tenun yang memadai serta perbaikan ruang outdoor bagi para penenun

Pendampingan bertahap dari tim pendamping budaya Ny. Rospita Benny Gusman Sinaga bersama dengan Bapak Bona Manullang diharapkan dapat menjadi titik awal sinergi serta jalan baru bagi bangkitnya kebudayaan Simalungun, dimulai dari Sanggar Budaya Rayantara agar naik kelas serta dapat tetap lestari di masa depan. (sigiro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *