Ilustrasi Pembacokan/radarsampit.com
Deli Serdang- Sebuah video yang menampilkan pertikaian antara sekelompok emak-emak dan sekelompok preman di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), telah menjadi viral di media sosial. Selain itu, dilaporkan bahwa salah satu warga juga mengalami luka bacokan selama kejadian tersebut.
Peristiwa itu terjadi di pinggir jalan yang cukup ramai. Beberapa pria dan emak-emak terlibat dalam cekcok di lokasi tersebut.
Tidak lama kemudian, seorang pria yang membawa tongkat dan diduga sebagai pelaku bacokan datang dengan membawa senjata tajam. Dia tampak menuju ke arah emak-emak yang berada di depannya. emak-emak tersebut terlihat sangat marah.
Namun, kemudian pria itu mengubah arah dan terlihat seorang pria dengan tangan berlumuran darah.
Sebuah narasi dalam unggahan tersebut menyatakan, “Kericuhan di Jalan Haji Anif, terkait dengan masalah lahan. Para preman datang, bahkan membacok warga.”
Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Jhonson Sitompul, mengonfirmasi kebenaran informasi dari video viral tersebut. Dia menyatakan bahwa kejadian tersebut terjadi di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, pada pagi hari.
“Kami menjelaskan tentang insiden pembacokan yang terjadi di Desa Sampali pagi tadi, sekitar pukul 10.00 WIB,” kata Jhonson.
Jhonson menjelaskan bahwa pihaknya segera merespons setelah menerima informasi tersebut. Namun, ketika mereka tiba di lokasi, situasinya sudah mulai kacau. Salah satu warga bernama Rahmantua juga menjadi korban dalam kejadian tersebut.
“Saat kami sampai di tempat kejadian, kami melihat kerumunan mulai kacau terkait kejadian itu, sedangkan pelaku pembacokan sudah melarikan diri saat kami tiba. Korban sudah dibawa oleh warga ke rumah sakit,” ungkapnya.
Perwira polisi tersebut mengatakan bahwa pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku pembacokan itu. Akhirnya, pelaku dengan inisial KM berhasil ditangkap. Mereka juga masih menyelidiki kemungkinan adanya pelaku lain dalam kejadian tersebut.
“Kami bersyukur bahwa kami berhasil menangkap pelaku sekitar pukul 13.00 WIB dengan cepat. Kami membawanya ke kantor untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Jhonson.
Dia juga menyatakan bahwa pihaknya masih mempelajari motif di balik kejadian tersebut. Namun, berdasarkan penyelidikan awal, pertikaian dan penganiayaan tersebut diduga dipicu oleh konflik terkait penggalian lubang.
“Sejauh ini, dari apa yang kami lihat, pelaku melakukan penggalian lubang tanpa izin dari pemilik bangunan. Pemilik bangunan mungkin merasa terganggu oleh tindakan itu. Pelaku kemungkinan tersinggung dan langsung menyerang korban dengan cara membacok tangannya,” katanya.
Dia juga mengungkapkan bahwa kejadian tersebut juga menyebabkan pembakaran ban oleh sejumlah warga, yang mengakibatkan terhentinya lalu lintas di daerah tersebut.
“Massa emosi karena korban adalah bagian dari komunitas mereka, sehingga mereka bereaksi emosional dengan membakar ban di jalan. Setelah kami tiba, dengan bantuan pihak desa dan pemadam kebakaran, api berhasil dipadamkan dan lalu lintas kembali normal setelah sempat terhenti karena pembakaran ban oleh warga,” tambahnya.