April 14, 2024 1:51 am


ACEH– Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) bersama Bank Sampah Induk New Normal (BSINN) – Yayasan Nuansa Alam Indonesia (YNA Indonesia) mengadakan program pengelolaan sampah dengan berbagai kegiatan, seperti: pengumpulan sampah, sosialisasi pengelolaan sampah, pembentukan bank sampah, serta pelatihan dan pendampingan.

Program tersebut dilaksanakan di beberapa kota dan wilayah di Aceh, hingga ke pelosok pulai kecil, pelaksanaan dilakukan, (23/8).

CCEP Indonesia dan BSINN-YNA Indonesia juga menggandeng Yayasan Hutan Untuk Anak (YHUA) untuk melakukan aksi bersih sampai di Pulau Sikandang (Pulau Banyak) dengan mengajak masyarakat setempat, anak-anak kelompok belajar, wisatawan mancanegara, eco-visitor dan para penyumbang dana YHUA dari Republik Ceko, untuk mengumpulkan semua sampah yang berada di garis pantai.

Para peserta bersih-bersih pantai berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 70 karung atau sekitar 200 kg, yang terdiri dari sampah plastik dan sampah non-organik lainnya.

CCEP Indonesia, YNA Indonesia, dan YHUA juga mengajak Kelompok Ujung Sialit Belajar (KUSB) untuk membentuk bank sampah unit sebagai pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Kelompok yang sudah berjalan selama 2 tahun tersebut memiliki 80 anak-anak dari Pulau Ujung Sialit, khususnya di Gampoeng Ujung Sialit, kecamatan Pulau Banyak, yang melakukan kegiatan membaca dan belajar bahasa Inggris secara gratis.

Pengajar dalam kelompok tersebut juga secara sukarela mengisi waktu dan menggunakan biaya secara pribadi untuk memastikan anak-anak di desa mendapatkan pendidikan yang layak.

Diharapkan pendampingan untuk program bank sampah yang akan dijalankan oleh KUSB dapat membentuk operasional belajar mengajar dengan sistem pembayaran menggunakan sampah. Sehingga, selain menjadi alternatif biaya pendidikan, permasalahan sampah yang ada di pulau/kampung dapat teratasi mengingat fasilitas pengangkutan sampah dan TPA terbatas sehingga sampah-sampah berakhir di selokan parit, di bawah rumah panggung dan terbawa sampai ke laut.

Yasra Al-Fariza selaku Direktur Bank Sampah New Normal (Yayasan Nuansa Alam Indonesia) dan Ketua Yayasan Hutan Untuk Anak menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di pesisir pantai perlu mendapatkan perhatian khusus untuk melindungi ekosistem laut.

”Jika ekosistem laut dapat terjaga dengan baik, maka masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dapat terbantu, karena ketersediaan ikan di sekitar pulau akan tercukupi. Masyarakat juga tidak perlu melaut terlalu jauh ke tengah untuk memancing ikan. Selain itu, pantai di Pulau Banyak akan terjaga keindahannya sehingga dapat menambah daya tarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara, dan mendukung perekonomian masyarakat sekitar dan bidang eko-wisata,” jelasnya.

“Dimana terlihat Kegigihan dan kekompakkan Kelompok Ujung Sialit Belajar perlu diacungkan jempol dengan segala kerterbatasan fasilitas, para peserta tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan, seperti mengajar anak-anak belajar membaca dan bahasa Inggris, serta aksi bersih pantai secara rutin. Kelompok tersebut didirikan dengan tujuan membantu pendidikan anak usia dini, menanamkan etika dan pelestarian kerumbu karang dilaut,” tambah Yasra.

Rius selaku Ketua Kelompok Belajar Ujung Sialit, mengatakan bahwa kondisi pendidikan di desanya sangat tidak maksimal dan banyak yang belum bisa membaca dengan baik sehingga banyak yang mengikuti program belajar tersebut untuk meningkatkan keterampilan, khususnya membaca dan berbahasa Inggris.

“Saya bisa berbahasa Inggris bukan karena tingginya pendidikan yang saya dapatkan,” jaelasnya.

Saya bahkan tidak dapat melanjutkan ke jenjang kuliah karena kondisi keterbatasan keluarga, tetapi saya punya tekad yang kuat untuk belajar sehingga saat ini saya bisa berbahasa Inggris.

Sedikit ilmu yang saya miliki harus saya salurkan kepada warga lainnya

Gito — Genewstv.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *