Bali— Produk kerajinan khas Kalimantan Tengah berupa talawang (perisai tradisional Dayak) hasil karya klien pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Palangka Raya menarik perhatian pengunjung dalam ajang World Congress on Probation and Parole (WCPP) ke-7 yang digelar di Bali. Jumat (17/04/2026).
Dalam pameran berskala internasional tersebut, talawang yang dipamerkan tidak hanya menjadi simbol kearifan lokal, tetapi juga bukti nyata keberhasilan program pembinaan kemandirian klien pemasyarakatan. Desain yang unik dengan motif etnik khas Dayak serta kualitas pengerjaan yang detail membuat produk ini diminati oleh peserta dari berbagai negara. Bahkan, sejumlah talawang yang dipamerkan dilaporkan laku terjual, menandakan tingginya apresiasi terhadap karya klien pemasyarakatan Indonesia di mata dunia
Kepala Bapas Palangka Raya, Theo Adrianus, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Ia juga aktif memberikan penjelasan kepada para pengunjung mengenai makna budaya talawang serta proses pembinaan yang dilalui para klien.
“Talawang ini bukan sekadar kerajinan, tetapi simbol perjalanan perubahan klien pemasyarakatan kami. Melalui pembinaan yang tepat, mereka mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi sekaligus budaya. Kami sangat bersyukur dan bangga karena beberapa produk yang dipamerkan berhasil terjual di ajang internasional ini,” ujar Theo Adrianus di sela-sela pameran.
Lebih lanjut, Theo menegaskan bahwa keikutsertaan dalam pameran internasional ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa klien pemasyarakatan memiliki potensi besar untuk berkarya dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Keberhasilan ini diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk hasil pembinaan, sekaligus memperkuat citra positif pemasyarakatan Indonesia di tingkat global. Selain itu, capaian ini juga menjadi motivasi bagi klien lainnya untuk terus mengembangkan keterampilan dan berdaya secara mandiri setelah kembali ke tengah masyarakat.
(Gito)