PEMATANGSIANTAR– Penggunaan simbol budaya Simalungun dalam kegiatan jajaran Polres Pematangsiantar melalui Zoom Meeting pada Sabtu (22/8/2026) menjadi perhatian pengamat seni dan budaya Simalungun, Tuan Damar Laut Purba.
Pria yang akrab disapa DL tersebut menilai, penggunaan simbol budaya dalam sebuah kegiatan resmi bukan hanya persoalan atribut atau tampilan semata. Menurutnya, simbol adat memiliki nilai sejarah, identitas, serta filosofi yang patut dipahami dan dihargai.
Damar Laut Purba mengapresiasi apabila jajaran Polres Pematangsiantar menunjukkan perhatian terhadap budaya Simalungun. Namun, ia berharap penggunaan simbol-simbol tersebut juga dibarengi dengan pemahaman yang baik mengenai makna dan nilai adat yang terkandung di dalamnya.
“Kalau simbol budaya Simalungun digunakan dalam kegiatan resmi, tentu kami menyambut baik. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana simbol itu dipahami, dihormati dan ditempatkan sesuai dengan nilai adat dan budaya Simalungun,” ungkap Damar Laut Purba.
Ia menegaskan, Pematangsiantar memiliki hubungan sejarah dan kultural yang kuat dengan Simalungun. Karena itu, menurutnya, identitas budaya Simalungun tidak semestinya hanya muncul ketika ada acara seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga warisan budaya daerah.
“Pematangsiantar tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah dan akar budaya Simalungun. Karena itu, sudah selayaknya seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah dan institusi negara yang berada di wilayah ini, ikut menghargai serta menjaga adat dan budaya Simalungun,” tegasnya.
Damar Laut Purba juga mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai budaya Pematangsiantar tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah kawasan Simalungun.
Menurutnya, perubahan administrasi pemerintahan dan perkembangan wilayah tidak serta-merta menghapus akar sejarah maupun identitas budaya yang telah tumbuh dan diwariskan secara turun-temurun.
“Wilayah boleh berkembang, batas administratif boleh berubah, tetapi sejarah dan akar budaya tidak boleh dilupakan. Pematangsiantar memiliki perjalanan sejarah yang sangat erat dengan Simalungun. Karena itu, penghormatan terhadap adat dan budaya Simalungun merupakan bagian dari penghormatan terhadap sejarah daerah ini,” ujarnya.
Ia berharap penggunaan simbol budaya Simalungun oleh pejabat maupun institusi di Kota Pematangsiantar dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal, bukan sekadar menjadi pelengkap dalam sebuah kegiatan.
“Jangan sampai budaya hanya dijadikan ornamen ketika diperlukan. Kalau kita benar-benar mencintai budaya Simalungun, maka harus ada penghormatan, pemahaman dan upaya nyata untuk melestarikannya,” kata DL.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat Simalungun dan seluruh elemen di Kota Pematangsiantar untuk bersama-sama menjaga warisan leluhur.
Menurutnya, keberadaan budaya lokal merupakan kekayaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Menjaga budaya bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Justru dengan memahami akar budaya dan sejarah kota Pematang Siantar kita bisa berkembang tanpa kehilangan jati diri,” pungkasnya. (sigiro)