DOLOK PARDAMEAN- SMAN 1 Dolok Pardamean menggelar acara pelepasan siswa-siswi kelas XII dengan nuansa yang berbeda. Berlokasi di kawasan Sipintu Angin, Jumat (17/4), seremoni perpisahan ini dikemas kental dalam balutan adat budaya Simalungun yang sarat makna, meski sempat diwarnai guyuran hujan deras yang justru menambah kesan haru.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan wujud dari slogan sekolah: “Anak desa yang berakar budaya bangsa, menuju tak terbatas dan melampauinya.” Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan dengan prosesi Mangalo-alo sebagai bentuk penghormatan tinggi kepada guru dan orang tua. Suasana haru menyelimuti saat tradisi pemberian “Boras Tenger” dilakukan kepada seluruh siswa. Prosesi ini merupakan simbol doa restu dan penguatan jiwa agar para lulusan memiliki mental tangguh dalam memperjuangkan cita-cita di luar sekolah. Tak hanya itu, identitas budaya semakin diperkuat dengan Mambere Hiou (pemberian sarung/kain adat) kepada siswa berprestasi dan pemberian Dayok Na Binatur secara simbolik
Kepala SMAN 1 Dolok Pardamean, Benty Sihombing ,S.Pd.,M.Si mengungkapkan rasa bangga atas berjalan nya acara ini dalam kemasan budaya simalungun. Ia menjelaskan bahwa konsep budaya Simalungun ini lahir dari usulan Wakasek Kurikulum, Hariyadi Sinaga, yang disambut baik oleh seluruh guru panitia, OSIS, dan Komite Sekolah.
“Kita hidup, makan, belajar, dan tinggal di tanah Simalungun, sehingga kita harus Patunggung Simalungun (memuliakan Simalungun). Budaya adalah pembentuk karakter (character building). Kekayaan materi bisa dicuri, namun karakter dan jati diri yang diasuh melalui budaya adalah bekal abadi yang tidak akan pernah hilang,” tegas Benty dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Cabang Dinas pendidikan Provinsi Sumatera Utara Wilayah VI August Sinaga,S.Pd.,S.ST.,M.AP, dalam arahannya menekankan tiga pilihan bagi lulusan SMA: melanjutkan studi, bekerja, atau berwirausaha. Ia berpesan agar para siswa tidak terjebak dalam pernikahan usia dini yang dapat memutus rantai impian.
“Tempat tidak menentukan kehebatanmu, tapi jati dirilah yang membawamu ke tangga kesuksesan. Kalian boleh orang kampung, tapi jangan kampungan. Milikilah cita cita dan harapan besar, walau berasal dari kampung. Orang yang jati dirinya lemah akan mudah terperangkap kejahatan dunia,” tandas Agust.
Beliau juga mengingatkan pentingnya filosofi “Inang Parsonduk Bolon”—peran ibu dalam menyediakan asupan makanan untuk mendukung kecerdasan anak serta ketegasan ayah dalam menentukan jam waktu serta mendidik di rumah.
Sebagai bentuk apresiasi nyata, lima pelajar berprestasi yang berhasil menembus jalur khusus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dianugerahi Hiou (digunakan seperangkat sarung). Pemberian ini merupakan simbol kehangatan jiwa dan dukungan dari para guru agar semangat mereka tetap menyala di tanah rantau. Ke-5 siswa tersebut adalah:
- Marsya Adventry Siringo-ringo, Teknik Pertambangan Universitas Jember
- Puspita Anggreni Sitio, Pendidikan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Medan
- Asni Priclisia Sagala, Bimbingan dan Konseling Universitas Tanjung Pura
- Anita Febrianti Malau, Akuntansi Politeknik Negeri Medan
- Christian Anser Manik, Teknik Mesin Universitas Trunojoyo Madura.
Meski hujan deras mengguyur bumi Sipintu Angin, semangat kebersamaan terbukti jauh lebih kuat. Rintik hujan justru menjadi saksi sejarah perjalanan tiga tahun para siswa. Kemeriahan tetap membahana, menutup babak pendidikan mereka di SMAN 1 Dolok Pardamean dengan kenangan yang berakar pada tradisi dan bersiap terbang menggapai mimpi. (sigiro)