Juni 27, 2026 9:36 pm
1

Pematangsiantar, Sabtu 27 Juni 2026- Pelaksanaan Workshop dan FGD alat musik tradisional Simalungun terlaksana dengan baik, yang di selenggarakan di Innara Hills, kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, kota Pematangsiantar.

Kegiatan yang diselenggarakan adalah bentuk pelestarian alat musik tradisional Simalungun ” Takjulnang ” yang hampir punah. Kegiatan ini didukung dan difasilitasi oleh Pemerintah lewat Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera utara

Kegiatan ini dihadiri oleh peserta generasi muda simalungun pecinta seni musik dan tari , Narasumber dan pemangku tradisi Bp Juniadi Sipayung, SH, Narasumber Praktisi Takjulang Bp Pius Garingging, Narasumber Bp Saddam Purba, pegiat dan tokoh budaya bp Sri sultan saragih S. Si, bp Hasudungan Purba Siboro, bp St Manangkas Sigiro, Dinas Pariwisata Simalungun diwakili kabid budaya ibu Marsa, Dinas Pendidikan kota Pematangsiantar yang diwakili Bp Hotman Purba dan BPK Sumatera utara bp Cipta Destiawan

di awal kegiatan St Manangkas Sigiro sebagai penerima manfaat bantuan BPK Sumatera utara menyampaikan terimakasih kepada seluruh yang hadir peserta FGD dan workshop, terutama kepada pemerintah lewat BPK Sumatera utara beserta sponsor Innara Hills, CV Mitra BLS, PMS kota Pematangsiantar, Dinas Infokom kota pematangsiantar dan Sanggar Budaya Rayantara yang sudah berkenan membantu memfasilitasi kegiatan workshop dan FGD. St Manangkas Sigiro menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk langkah upaya dan cara melestarikan dan mengembangkan alat musik tradisional simalungun yang hampir punah secara khusus alat musik tradisional, dimana langkah kegiatan ini berawal dari bincang bincang dengan tokoh seni dan budaya simalungun bp Sri Sultan Saragih dan bp Hasudungan Purba Siboro yang kemudian diterjemahkan menjadi program yang diajukan ke BPK Sumatera utara

Selanjutnya kegiatan dibuka dengan kata sambutan dari Dinas Pendidikan kota Pematangsiantar, Dinas Pariwisata kabupaten Simalungun dan BPK Sumatera Utara

Setelah kata sambutan dengan dipandu oleh moderator Sri Sultan Saragih, Narasumber dan praktisi langsung memberikan materi pemaparan alat musik takjulnang yang dilanjutkan dengan diskusi bersama seluruh peserta kegiatan

Juniadi sipayung mengatakan alat musik takjulnang menyerupai miniatur gondrang simalungun yang memiliki unsur nada gong, nada mongmong dan tagading yang diciftakan dengan tiga senar, tiga lobang dan setelan yang masing masing punya fungsi suara. dan yang paling penting kita harus mengerti tujuan dan fungsi yang terkandung sehingga memiliki unsur budaya yang benar sehingga pantas kita lestarikan dan kembangkan ucap beliau

Pius Garingging yang merupakan pecinta dan praktisi alat musik mengatakan bahwa pencifta alat musik takjulnang tidak diketahui siapa, namun sejak usia 4 tahun beliau sudah menemukan keberadaan takjulnang didalam rumah maupun ladangnya bahkan sering dimainkan oleh keluarga bersama dengan terompet dari batang padi ( one one ), takjulnang ini kami mainkan sebagai hiburan keluarga mengatasi kekosongan dan kesunyian hati dikampung kami yang dulunya belum ada radio , namun pada tahun 2011, keberadaan takjulnang ini mulai hilang karena kurang perhatian, makanya kami berharap kepada pemerintah agar mendukung pembentukan sanggar di setiap desa yang ada di simalungun agar bisa menjadi wadah budaya dan seni untuk generasi muda simalungun dalam rangka pelestarian seni dan budaya ujar beliau..

Narasumber Saddam Purba menambahkan bahwa alat musik takjulnang bukan alat musik adat, tetapi lebih cenderung kepada alat musik hiburan yang perlu di kaji ulang dalam bentuk ketukan maupun improvisasi supaya menjadi alat musik yang enak di dengar, karena dahulu alat musik takjulnang secara sosiologi menggambarkan kehidupan seni masyarakat simalungun dimasa dulu.

Pada sesi diskusi narasumber bersama peserta undangan mencoba mendiskusikan perihal kesulitan dan peluang untuk mengembangkan alat musik takjulnang

Alat musik Takjulnang terbuat dari bahan bambu balakke dan bambu minyak karena secara serat dan ketebalan lebih mudah dibuat untuk menghasilkan nada miniatur gondrang simalungun, untuk bahan sangat mudah ditemukan dan pembuatannya juga hanya butuh alat sederhana.

Namun keberadaan takjulnang terancam punah karena alat musik ini belum memiliki nilai ekonomi dan tidak pernah dibuat dalam sebuah pagelaran acara hiburan, dan kehadiran alat musik elektronik seperti radio, loudspeker blotoot, dan keyboard juga menjadi tantangan tersendiri terhadap alat musik tradisional.

Kemudian Disesi berikutnya experimen kolaborasi musik di laksanakan, peserta workshop bernyanyi dan menari tarian simalungun di iringi lagu dan musik kolaborasi alat musik takjulnang biola, dan garattung dipandu oleh narasumber dan moderator Sri Sultan Saragih.

Setelah percobaan kolaborasi musik untuk mengiringi lagu dan tarian disimpulkan bahwa alat musik cocok dikolaborasikan dengan takjulnang adalah kecapi, hanya perlu diciftakan alat penguat suara elektrik yang dihubungkan dengan loudspeaker.

Kemudian disesi berikutnya kegiatan ini mendapat tanggapan dan masukan dalam berbagai bentuk untuk mendukung pelestarian dan pengembangan alat musik tradisional simalungun takjulnang,
Bp Hotman Purba ( mewakili dinas pendidikan ) menyampaikan harapan kerja sama semua pihak dalam rangka pengumpulan data data dan sejarah yang dibutuhkan dalam proses pengajuan takjulnang menjadi WBTB

Bp Cipta Destiawan ( BPK Sumatera utara ) menyampaikan bahwa pemerintah memiliki domain untuk melestarikan dan memajukan objek objek kebudayaan terutama yang hampir punah. Alat musik takjulnang merupakan salah salah satu alat musik yang sedang diajukan menjadi WBTB yang memiliki peringkat ke 8 dari 25 yang diajukan dalam program kerja sama Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata bersama dengan BPK Sumater utara, untuk itu saya berharap para pegiat budaya ikut serta menampilkan objek objek budaya pada pementasan pekan raya yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Bidang budaya kabupaten simalungun ibu Masra menyampaikan dalam setiap pameran kegiatan budaya agar takjulnang bisa ditampilkan dalam bentuk benda yang di pamerkan maupun di buat pertunjukan yang menggunakan alat musik takjulnang dan juga bisa di programkan untuk di sosialisasikan di dunia pendidikan atau sekolah.

Di akhir kegiatan seluruh peserta, narasumber dan undangan merasa puas dengan hasil pemaparan alat musik takjulnang hingga pertunjukan kolaborasi alat musik, lagu dan tarian simalungun serta ditutup dengan acara foto bersama. (MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *